Yups!
Mereka adalah Rifky Balweel dan Risty Tagor beserta si kecil Arsen Raffa Balweel yang baru berumur 1,5 tahun.
Pengen masih muda tapi sudah berkeluarga kayak mereka?
Ahahaha.
Jujur gue geli banget waktu baca atau denger sendiri langsung orang yang ngebet pengen nikah muda. Seakan-akan nikah muda itu gampang, mungkin di dalam otak mereka yang ada cuma senang, senang dan senang. Mereka sepertinya ingin terlihat keren layaknya selebritis-selebritis muda yang udah gendong anak di usia produktif. Kebanyakan baca majalah sama nonton infotainment kali ya. Hahaha.
Nikah muda yang gue maksud di sini adalah dari lulus SMA(17/18 tahun) hingga lulus sarjana(21/22 tahun). Lalu kapan normalnya orang menikah? Untuk cowok, yaitu pada umur lulus sarjana ditambah 1 tahun bekerja (kisaran 23 tahun ke atas). Untuk cewek fleksibel aja sebenernya, tergantung orangtua mereka kasih izin atau enggak. Tapi gue saranin tetep harus lulus S1 dulu agar hati orangtua tenang. Karena sepengalaman saudara sepupu gue cewek yang sudah menikah, nanti lo akan ngerasa ribet banget dan susah membagi waktu antara keluarga dan kuliah, ditambah lagi kalau nanti lo hamil, harus cuti hamil lah, cuti menyusui lah. BEUH! Ribet banget, cyint!
Seperti yang gue tulis di atas, nikah muda itu gak gampang, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Jangan mikir seneng-senengnya doank!
Setelah gue rangkum, masalah yang harus dihadapi anak muda sebelum memutuskan untuk menikah di usia dini ada dua, yaitu..
BIAYA
Semua orang butuh uang, lo gak akan bisa membangun rumah tangga hanya dengan bermodalkan cinta. Yang jadi permasalahan adalah di saat lo masih muda, baru lulus S1 misalkan, mau dapet duit dari mana? Jualan kolor? Mana bisa. Kecuali lo anak Chairul Tanjung si anak singkong, beda lagi ceritanya. Biaya di sini gak sebatas soal budget acara nikahan aja, tapi lebih dari itu, lo harus siap menanggung seluruh biaya hidup anak-istri. Semua-semuanya elo yang tanggung, mulai dari susu dan popok si kecil, biaya sekolah dari TK hingga kuliah, sampai kendaraan dan rumah. Berat memang, tapi itulah tanggung jawab seorang suami. Untuk cewek, tidak diwajibkan untuk mencari nafkah, yang penting pinter masak, pinter ngurus urusan rumah tangga dan gape dalam momong anak. Dan kalaupun bekerja, sifatnya hanya membantu keuangan pria, bukan sebagai yang utama.
MENTAL
Setelah point pertama dirasa mampu untuk dilalui dan lo PeDe dengan penghasilan lo, masuklah kita ke point kedua, yaitu mental. Gue share sedikit ya tentang pengalaman gue bantu kakak momong adik ponakan dari kecil sampai sekarang umur 2 tahun. Dari awal lahir hingga bisa berjalan biasanya relatif gampang mengurusnya. Mandiin, nyuapin, udah, paling kalau si kecil nangis tinggal panggil ibunya buat kasih ASI, beres. Tapi begitu udah gedhe, udah bisa jalan, elo harus punya energi extra buat nemenin si kecil lari ke sana ke mari. Di saat-saat seperti ini lah kesabaran sebagai orangtua diuji. Capek? Jelas! Beban pikiran akan bertumpuk, dari masalah kerja, perkuliahan hingga rumah tangga. Tapi semarah-marahnya pada anak tetap tidak diperbolehkan untuk menggunakan kekerasan. Kalian pasti pernah mendengar berita tentang kekerasan dalam rumah tangga, yang anaknya digebukinlah, yang anaknya dibuang di kali lah, itu semua disebabkan karena labilnya mental orangtua. Jangankan yang masih muda, yang udah tua aja kadang masih labil. Umur memang bukan patokan kedewasaan seseorang.
Gimana? Masih ngebet pengen nikah muda? Kalau gue sih enggak ya :))
Namun, terlepas dari kedua hal tersebut, ada sisi positif yang dapat ditemukan pada nikah muda. Yaitu, tidak terlampau jauh-nya jarak usia antara anak dengan orangtua, ini bagus untuk perkembangan anak, di mana obrolan yang dibahas dan pola pikirnya tidak terlalu jauh berbeda. Gue dulu punya temen yang antar generasinya berjarak hanya 20 tahun. Si nenek berusia 55 tahun, ibunya berumur 35 tahun, dan temen gue 15 tahun. Mereka sering jalan bareng, obrolan mereka nyambung dan orangtuanya pun tidak terlalu kolot dan mau menerima saran dari si anak.
Semua orang butuh uang, lo gak akan bisa membangun rumah tangga hanya dengan bermodalkan cinta. Yang jadi permasalahan adalah di saat lo masih muda, baru lulus S1 misalkan, mau dapet duit dari mana? Jualan kolor? Mana bisa. Kecuali lo anak Chairul Tanjung si anak singkong, beda lagi ceritanya. Biaya di sini gak sebatas soal budget acara nikahan aja, tapi lebih dari itu, lo harus siap menanggung seluruh biaya hidup anak-istri. Semua-semuanya elo yang tanggung, mulai dari susu dan popok si kecil, biaya sekolah dari TK hingga kuliah, sampai kendaraan dan rumah. Berat memang, tapi itulah tanggung jawab seorang suami. Untuk cewek, tidak diwajibkan untuk mencari nafkah, yang penting pinter masak, pinter ngurus urusan rumah tangga dan gape dalam momong anak. Dan kalaupun bekerja, sifatnya hanya membantu keuangan pria, bukan sebagai yang utama.
MENTAL
Setelah point pertama dirasa mampu untuk dilalui dan lo PeDe dengan penghasilan lo, masuklah kita ke point kedua, yaitu mental. Gue share sedikit ya tentang pengalaman gue bantu kakak momong adik ponakan dari kecil sampai sekarang umur 2 tahun. Dari awal lahir hingga bisa berjalan biasanya relatif gampang mengurusnya. Mandiin, nyuapin, udah, paling kalau si kecil nangis tinggal panggil ibunya buat kasih ASI, beres. Tapi begitu udah gedhe, udah bisa jalan, elo harus punya energi extra buat nemenin si kecil lari ke sana ke mari. Di saat-saat seperti ini lah kesabaran sebagai orangtua diuji. Capek? Jelas! Beban pikiran akan bertumpuk, dari masalah kerja, perkuliahan hingga rumah tangga. Tapi semarah-marahnya pada anak tetap tidak diperbolehkan untuk menggunakan kekerasan. Kalian pasti pernah mendengar berita tentang kekerasan dalam rumah tangga, yang anaknya digebukinlah, yang anaknya dibuang di kali lah, itu semua disebabkan karena labilnya mental orangtua. Jangankan yang masih muda, yang udah tua aja kadang masih labil. Umur memang bukan patokan kedewasaan seseorang.
Gimana? Masih ngebet pengen nikah muda? Kalau gue sih enggak ya :))
Namun, terlepas dari kedua hal tersebut, ada sisi positif yang dapat ditemukan pada nikah muda. Yaitu, tidak terlampau jauh-nya jarak usia antara anak dengan orangtua, ini bagus untuk perkembangan anak, di mana obrolan yang dibahas dan pola pikirnya tidak terlalu jauh berbeda. Gue dulu punya temen yang antar generasinya berjarak hanya 20 tahun. Si nenek berusia 55 tahun, ibunya berumur 35 tahun, dan temen gue 15 tahun. Mereka sering jalan bareng, obrolan mereka nyambung dan orangtuanya pun tidak terlalu kolot dan mau menerima saran dari si anak.

0 Response to "Nikah (Gak)Muda(h)"
Post a Comment